Pantaraku

Di tapak-tapak jejakku, kukira tak 'kan mekar ungu padma. Hanya harap dan do'a: Moga tarikan nafasku, tak rebut catu udara sesiapa. Moga lirik tatapku, tak risihkan rasa sesiapa. Wudlu-ku belum sampai kaki Shalatku belum sampai ruku' Tepuk bahuku bila tampak jumawa Semoga ada guna, tentu saja

Monday, September 25, 2006

PROSEDUR REMEDIAL

MASALAH AUDITORI


A. Resepsi Auditori dan Pemahaman Ucapan
Anak yang bermasalah dalam resepsi auditori (mencerap bunyi) sebenarnya memiliki pendengaran yang baik. Organ pendengarannya lengkap, tetapi tak dapat memaknai apa yang didengarnya. Apalagi memahaminya. Penjelasan guru tidak dapat diingatnya karena ia memang tak memahaminya. Anak ini sulit menyimak dan merespon stimulus suara, memahami kata-kata abstrak, menjawab pertanyaan konseptual, menjawab pertanyaan pemahaman bacaan, mengenali suatu objek dari uraian lisan, memaknai suatu kata dan memilahnya dari suara-suara yang lain.

Prosedur Remedial

  1. Berikan anak instruksi dengan kalimat pendek yang berisi satu konsep atau satu pertanyaan agar anak bisa mengulang ucap apa yang didengarnya.
  2. Ingatkan selalu anak terhadap instruksi dan biarkan anak menyimak dengan cermat.
  3. Selalu berikan instruksi tunggal.
  4. Sebisa mungkin, berilah anak stimulus visual.
  5. Tingkatkan instruksi yang mulanya sederhana menjadi kian kompleks, misalnya
    a. Berjalanlah ke arah pintu.
    b. Berjalanlah ke arah pintu dan masukkan kuncinya.
    c. Berjalanlah ke arah pintu, masukkan kuncinya, dan putar pegangannya,
    d. Berjalanlah ke arah pintu, masukkan kunci, putar pegangannya, lalu buka pintunya.
  6. Suruh anak memejamkan matanya rapat-rapat. Bunyikanlah suatu benda yang amat dikenalnya. Kemudian suruhlah anak menyebutkan nama benda itu.
  7. Suruh anak melakukan dengan segera apa yang kita ucapkan, misalnya “tepuk tangan!” Anak pun segera bertepuk tangan.
  8. Berikan anak selembar kertas kosong dan pensil warna. Suruh anak untuk menggambar dengan instruksi yang bertahap, misalnya:
    a. Buatlah sebuah lingkaran biru.
    b. Buat lagi sebuah lingkaran biru dan silang merah.
    c. Buat lagi sebuah lingkaran biru dan silang merah, kemudian hubungkan lingkaran biru dan silang merah dengan garis coklat.
  9. Instruksi ini bisa dimodifikasi untuk mengembangkan konsep atas-bawah, kanan-kiri, kurang-lebih, dan lain-lain.
    Bacakan sebuah cerita pendek. Lalu tanyai anak mengenai isi ceritanya. Misalnya:
    a. Suruh anak menyebutkan nama-nama tokoh dalam cerita.
    b. Ajukan pertanyaan pendek tentang isi cerita.
    c. Ajukan pertanyaan tentang peristiwa-peristiwa khusus yang ada dalam cerita. Lalu ajak anak untuk membayangkan kalau hal terjadi pada dirinya.
    d. Suruh anak mengulang cerita itu dengan kalimatnya sendri.
  10. Sebutkanlah tiga kata, dua kata di antaranya sama dan satunya lagi berbeda. Misalnya buku, buku, duku. Suruh anak memilih kata yang berbeda. Tambahkan jumlah kata seiring peningkatan kemampuan auditorinya, agar anak semakin banyak mendengar dan mengingat perbedaan, misalnya kata buku duku suku ruku kuku.
  11. Suruh anak mengekspresikan atau melaksanakan kata-kata yang diucapkan. Misalya pejamkan mata, hentakkan kaki, tepukkan tangan ke lutut, pegang perut, pegang punggung, dan lain-lain.
  12. Menulis dengan dikte. Diktekan sebuah kalimat pendek. Usahakan jangan sampai mengulang kalimat. Secara bertahap tingkatkan panjang kalimat yang didiktekan.
  13. Ungkapkanlah sebuah kalimat untuk memancing suatu kata, misalnya “Apa sih yang kita gunakan untuk makan sop?”
  14. Suruh anak menulis sebuah cerita pendek atau puisi di selembar kertas kosong.

B. Diskriminasi Auditori

Diskriminasi auditori adalah kemampuan mendiskriminasikan atau memilah-milah bunyi. Atau bisa juga disebut kemampuan mengenali perbedaan dan persamaan bunyi. Anak mungkin mampu mendengar dengan baik, tetapi bingung saat mendengarkan beberapa bunyi yang divariasikan. Misalnya bunyi kata bit-bet, atau rim-rem. Sebenarnya tiap anak menghadapi masalah seperti ini, terutama bila pembelajaran ‘membaca permulaan’-nya menggunakan metode fonetik atau metode bunyi. Anak yang berkesulitan membedakan bunyi “d” dan “b”, akan mengalami kesulitan tatkala membaca kata yang mengandung kedua huruf itu.

Prinsip-prinsip umum pengembangan kemampuan diskriminasi auditori:
Mulailah dengan huruf yang perbedaan bunyinya amat jelas, misalnya antara fonem “k” dan “s”.

  • Mulailah dengan bunyi-bunyi yang sudah akrab ditelinga anak.
  • Secara bertahap, tingkatkanlah kemampuan anak dengan memperhalus perbedaan bunyi yang harus didiskriminasikan. Misalnya, bila pada awalnya anak disuruh mendis-kriminasikan bunyi dering telepon dengan suara pintu dikunci, lanjutkanlah dengan diskriminasi antara bunyi dering telepon dan bunyi bel pintu.

Prosedur Remedial

  1. Onomatope (Menirukan Suara)
    Suruh anak menirukan bunyi gonggongan anjing. Persulit perintahnya menjadi, misalnya: tirukan gonggongan anjing yang sedang marah atau gonggongan anjing yang sedang senang.
  2. Tunjukkanlah gambar-gambar yang dikenal anak, misalnya gambar anjing, kucing, lonceng, atau mobil. Kemudian suruh anak menirukan bunyi dari masing-masing gambar tersebut.
  3. Permainan Bunyi
    Perdengarkan sebuah bunyi, lalu suruhlah siswa menebak bunyi apakah itu.
  4. Perdengarkan suara piano atau suling dengan nada panjang-pendek. Suruh anak membedakan suara itu, misalnya dengan isyarat membuka-menelungkupkan tangan sebagai tanda panjang dan pendek suara.
  5. Rekamlah bunyi-bunyian yang dikenal anak, misalnya bunyi bel sekolah, raungan kereta, dan lain-lain. Kemudian suruh anak menebak bunyi-bunyian itu.
  6. Berdirilah di sebelah anak, lalu bertepuk tanganlah sebanyak empat atau tujuh kali. Suruh anak menyebutkan berapa kali bunyi tepuk tangan tadi. Anda juga bisa menggunakan alat-alat seperti suling, piano, ataupun ketukan meja.
  7. Siapkan empat pasang kotak plastik berukuran sama. Masing-masing kotak diisi klip, pasir, biji jagung, dan kismis. Suruhlah anak mencari pasangan masing-masing kotak dengan cara menggoyang-goyangkan kotak itu hingga ia bisa mengenali isi kotak itu dari suaranya.
  8. Bacakanlah sebuah pantun pendek dua atau tiga kali. Suruhlah anak menyebutkan kata-kata yang bersanjaknya.
  9. Tulislah sebuah suku kata di papan tulis, misalnya bis, pos, rem, kol, lem, bor, ban, dan lain-lain. Suruh anak membacanya dengan suara nyaring. Suruh juga anak meng-garisbawahi bunyi vokal yang paling sering muncul.
  10. Rekamlah kata-kata yang bersuku kata tungggal. Lalu bunyikan rekaman itu dengan speed lambat. Untuk setiap kata anak disuruh menyebutkan: (a) bunyi awal, (b) bunyi tengah, dan (c) bunyi akhir, lalu anak menuliskannya.


C. Memori Auditori

Anak yang memiliki masalah memori auditori mengalami kesulitan mengingat apa yang pernah didengarnya. Terutama yang berkaitan dengan memori auditori sekuential (ingatan akan bunyi yang berurutan). Oleh karena itu, mereka sulit mengingat urutan suku kata dalam kata atau urutan kata dalam kalimat yang dibacanya. Inilah yang mempersulit proses belajarnya.

Proses Remedial

  1. Ulangi perintah agar anak lebih yakin lagi dalam melaksanakannya
  2. Suruh anak membuat catatan, agar ia memperoleh feedback visual dan kinestetik (dari proses menulis) yang dapat membantu ingatannya.
  3. Latih anak dengan menyuruhnya mendengarkan suara sambil menutup mata, agar tidak terganggu oleh apa yang dilihatnya.
  4. Latih anak mengikuti petunjuk yang harus dilakukan secara bertahap.
  5. Latih anak mengingat urutan angka yang bermakna, misalnya nomor telepon, nomor induk siswa, dan lain-lain.
  6. Suruh anak mengingat lagu-lagu, cerita, dan sajak.
  7. Kalau mungkin, anak sebaiknya diberi instruksi tertulis.
  8. Bacakan beberapa kata secara lambat. Suruh anak segera menuliskan kata-kata itu.
  9. Dikte merupakan metode yang amat baik dalam hal ini. Karena sekaligus anak akan mengenal bentuk tulisan, mendengarkannya, kemudian menuliskannya.
  10. Bila mungkin, gunakan alat bantu visual untuk mengembangkan memori skuential auditorinya.
  11. Letakkan lima atau enam benda di hadapan anak. Beri anak serangkaian petunjuk yang berurtan, misalnya “letakkan balok hijau di sapu tangan Lia, letakkan bunga merah di bawah kursi Budi, dan letakkan bola jingga di atas meja Amir.” Tambahkan bendanya seiring peningkatan kemampuan memori anak.
  12. Suruh anak menonton televisi dan mengingat acara tertentu, misalnya sinetron Keluarga Cemara atau Bidadari. Lalu, ajaklah ia menceritakan perbedaan sifat Ara dan Pipin, atau sifat Lala dan Bombom.
  13. Ajak anak bermain dolanan yang mengandung cerita, misalnya permainan Berkunjung ke Bulan, gantilah setting ceritanya, misalnya menjadi Berkunjung ke Bandung. Katakan, “kalau saya megambl sekilo tape untuk bekal ke bulan, kamu berhak mengambil tabung udara saya”. Suruh anak mengulang kata-kata sambil menambah satu benda lagi, misalnya baju antariksa. Begitu seterusnya.

MASALAH VISUAL

Visual erat kaitannya dengan prestasi akademik, terutama dalam membaca. Beberapa penelitian menemukan adanya beberapa subkecakapan persepsi yang amat mendasar. Di antaranya berkenaan dengan resepsi visual (pencerapan visual), diskriminai, dan memori visual.

A. Resepsi Visual
Resepsi visual atau pencerapan visual adalah kemampuan untuk menangkap makna dari simbol-simbol atau gambar. Anak yang memiliki ketajaman penglihatan belum tentu mam-pu menafsirkan gambar atau simbol. Siswa yang memiliki masalah resepsi visual menga-lami kesulitan menyeleksi isyarat-isyarat penting, memindai medan perseptual saat men-cari informasi, dan mengorganisir apa yang dilihatnya agar bisa diingat dengan utuh dan menangkap makna simbol visualnya.

Prosedur Remedial

  1. Design Pegboard: Buatlah sebuah pola geometrik untuk membentuk sebuah pegboard warna- warni. (Pegboad mungkin semacam papan dengan deretan paku sebagai tempat kaitan karet gelang, yang membentuk berbagai pola geometris –pent).
  2. Menyusun Balok: Siapkan beberapa balok warna-warni. Suruhlah anak menyusun balok itu menjadi bentuk-bentuk geometrik atau model-model tertentu.
  3. Menemukan Bentuk dalam Gambar: Suruh anak memukan lingkaran, kotak, atau bentuk-bentuk lain di sebuah gambar.
  4. Menyusun Manik-manik: Suruh anak menjiplak atau menyalin pola-pola sederhana dengan titik-titik dan garis.
  5. Puzzle: Ajak anak bersama-sama menyusun kepingan-kepingan puzzle.
  6. Klaifikasi: Suruh anak menyuruh mengelompokkan beberapa bangun geometris menurut bentuk, ukuran dan warnanya.
  7. Gelang Karet Berpola: Suruh anak meniru bangun geometris dengan karet gelang warna-warni yang dikaitkan ke deretan paku yang dipasang pada papan.
  8. Lembar Kerja: Gunakan lembar kerja yang sengaja dibuat untuk mengajarkan kecakapan resepsi visual. Suruh anak menemukan objek atau bentuk yang berbeda, memasangkan objek-objek yang sama, menemukan objek pada gambar dengan posisi landskap yang bervariasi atau memisah-misahkan bentuk dari gambar.
  9. Memasangkan Bentuk Geometris: Siapkan kartu-kartu yang memiliki beragam bentuk, lalu mainkan kartu itu dengan cara memasangkan sesuai bentuk dan warnanya.
  10. Memilih Ukuran Botol dan Tutupnya: Baurkan tutup botol, kemudian suruhlah anak memasangkannya ke botol yang tepat.
  11. Domino: Mainka kartu domino, suruh anak memasangkan kartu domino sesuai bentuknya.
  12. Bermain Kartu: Mainkan kartu remi, suruh anak memasangkan angka, gambar, bentuk yang sesuai.
  13. Huruf dan Angka: Persepsi dan diskriminasi huruf merupakan kecakapan yang penting amat membaca. Untuk menarik perhatian anak, dapat diciptakan permainan yang menuntut anak memasangkan, memilih, atau menyebutkan bentuk huruf.
  14. Huruf Bingo: Modifikasi kartu bingo dengan huruf. Dengan menyebutkan huruf yang tertera pada kartu itu, anak dituntun mengenal huruf dan meningatnya.
  15. Menemukan Bagian yang Hilang: Siapkan gambar-gambar dari majalah. Guntinglah bagian-bagian tertentu dari gambar tersebut. Suruh anak mencari atau melengkapi bagian-bagian gambar yang hilang itu.
  16. Persepsi Visual Kata: Kemampuan mempersepsi kata erat kaitannya dengan membaca. Kegiatan mema-sangkan, menyortir, mengelompokkan, menelusuri, dan menggambar bentuk pola geometris dan huruf dapat diterapkan dalam permainan ini.
  17. Membuat Ilustrasi Cerita: Suruh anak membuat gambar ilustrasi bagian penting kisah yang Anda diceritakan.
  18. Menyusun kartu cerita bergambar.


B. Diskriminasi Visual

Diskriminasi merupakan kemampuan menemukan persamaan dan perbedaan objek yang dliihat. Anak yang memiliki masalah diskriminasi visual tidak mampu menemukan perbe-daan dan persamaan huruf, kata, angka, gambar, dan objek lain. Kemampuan mendiskri-minasikan huruf dan kata secara visual merupakan faktor penting dalam belajar membaca.

Prosedur Remedial

  1. Mulailah dengan mengajarkan anak menemukan perbedaan bentuk huruf, kata, dan objek. Secara bertahap ajari anak mendiskriminasikan perbedaan yang lebih kecil.
  2. Tutup mata anak, suruh ia menemukan persamaan atau perbedaan bentuk dengan merabanya, misalnya besar-kecilnya bola, atau kasar-lembutnya bulu boneka panda.
  3. Suruhlah anak mengelompokkan objek dari besar ke kecil, dari tebal ke tipis, dari lembut ke kasar, dan seterusnya.
  4. Suruhlah anak memilih pasangan objek, huruf atau kata.
  5. Gunakan artikel dar majalah atau koran. Suruh anak melingkari semua huruf “a” atau huruf vokal lain di artikel itu. Lanjutkan dengan perintah-perintah lain, misalnya melingkari akhiran “kan”, kata depan “di”, dan seterusnya.
  6. Buatlah lembaran yang berisi kata-kata tak bermakna. Suruh anak membacanya beberapa saat, kemudian suruh anak melingkari huruf, misalnya, “a” atau “b”. Utamakan pada huruf-huruf tertentu di mana anak mengalami kesulitan. Catat kesalahan dan kesulitannya, catat pula waktu yang dibutuhkannya untuk memperbaiki kesalahannya.
  7. Suruh anak menemukan huruf, kata, atau angka yang tersembunyi dalam gambar.
    Kegiatan treatmen di atas dapat pula dipergunakan untuk meningkatkan kemampuan diskriminasi visual.

C. Memori Visual

Anak yang memiliki masalah memori visual mengalami kesulitan dalam mencamkan dan mengingat apa pengalaman visualnya. Terutama yang berkaitan dengan memori visual sekuential. Mereka sulit mengingat urutan suku kata dalam kata atau urutan kata dalam kalimat yang telah dilihatnya. Acapkali mereka pun mengalami kesulitan membaca.

Proseder Remedial

  1. Gunakanlah metode auditori, misalnya dengan menyuruh anak mengeja kata dengan suara nyaring saat menulis.
  2. Gunakanlah flash card word untuk mengembangkan memori. Kartu kata ini memiliki jendela yang bisa digeser untuk masing-masing suku katanya. Dengan menggeser jendelanya, perhatian anak akan terpusat pada suku kata yang akan dilafalkannya. Secara bertahap percepatlah gerakan menggesernya. Suruh anak segera menuliskan suku kata yang telah dilihatnya.
  3. Suruhlah anak memandang ke luar jendela selama satu menit, kemudian suruh ia menuliskan tiga objek yang dilihatnya. Bila mungkin tambahkan objek-objek lain yang harus ditulisnya.
  4. Susunlah beberapa gambar, huruf, atau angka dengan pola tertentu. Biarkan anak mengamatinya beberapa saat. Acaklah, lalu suruh anak menyusunnya kembali.
  5. Suruh anak menggunakan huruf-huruf acak untuk membuat sebuah kata.
  6. Ajaklah anak bermain kartu, dan suruh ia mengingat huruf, angka, gambar, atau bentuk yang terdapat dalam kartu.
  7. Untuk meningkatkan daya ingat jangka pendeknya, suruh anak menghafalkan nomor-nomor telepon.
  8. Suruh anak mengingat urutan huruf dan nomor pada plat nomor kendaraan. Untuk memotivasinya, berilah reward bila ia dapat melakukannya dengan tepat.
  9. Buatlah tachitoskop, yaitu sebuah alat yang terdiri dari penutup, pembuka, dan serangkaian kata yang dapat diperlihatkan secara cepat.
    Uraikanlah sebuah kata menjadi suku kata. Suruh anak menggunakan urutan suku kata itu saat mengeja.
  10. Suruh anak menyalin atau meniru gambar sesuai contoh. Bila anak melakukan kesalahan, suruh ia memperhatikan lagi contohnya.
  11. Perlihatkan beberapa benda, ambil dan sembunyikan salah satunya. Kemudian, perlihatkan lagi benda-benda tadi. Lalu suruh anak menunjuk benda yang Anda sembunyikan.
  12. Perlihatkan beberapa bangun geometris, urutan huruf, atau angka. Suruh anak menyalin bentuk, huruf atau angka tersebut.
  13. Siapkan huruf berwarna hitam yang pada bagian belakangnya terdapat magnet. Tempelkan di papan berwarna putih. Dengan kekontrasan warna keduanya, perhatian anak akan lebih terfokus.

MASALAH MOTORIK ATAU GERAK

A. Koordinasi Gross Motorik (Gerak Kasar)
Anak yang memiliki masalah koordinasi gross motorik biasanya terlihat clumsy (kikuk) canggung, dan kaku. Ia kurang terlatih dalam aktivitas olah raga, dan biasanya lebih betah duduk di bangku kelasnya. Masalah ini biasanya akan berkaitan dengan konsep diri yang rendah dan perasaan tak adekuat.

Aktivitas gross motorik merupakan aplikasi dari kemampuan menggerakkan otot-otot dan bagian-bagian tubuhnya, mengendalikan gerakan sesuai maksud dan kondisi tubuh, serta kondisi lingkungan-ruang, seperti lateralisasi dan gravitasi. Treatmen berikut diarahkan untuk memperhalus, mengefektifkan dan meningkatkan perasaan “sadar” orientasi ruang dan tubuhnya sendiri. Sebaiknya program dibuat individual karena anak seperti ini biasanya kurang dapat melakukan kegiatan bersamaan.

Prosedur Remedial

  1. Suruh anak melakukan aktivitas lokomotor, seperti berjalan maju, mundur, atau ke samping. Bisa juga berjalan menelusuri garis lurus atau berkelok yang sengaja dibuat di lantai. Pada mulanya bentuk garis tebal, kemudian secara bertahap garis itu diperkecil. Gerak berjalan bisa divariasikan dengan berbagai posisi tangan, misalnya berjalan sambil membawa sesuatu, mendorong kursi, memantul-mantulkan bola ke lantai, atau berjalan dengan mata tertuju ke arah lain.
  2. Suruh anak meniru gerak berjalan binatang.
  • Jalan Gajah
    Badan dibungkukkan ke depan seperti orang ruku’, sambil berjalan lengan dijulurkan ke depan dan digoyangkan ke kanan ke kiri.
  • Lompat Kelinci
    Letakkan kedua tangan di lantai, lutut ditekuk, lalu hentakkan kaki sambil melompat ke depan.
  • Jalan Kepting
    Kedua tangan sebagai capit lalu berjalan maju-mundur dengan pelahan dan cepat.
  • Jalan Bebek
    Berjalan dengan berjongkok; lutut ditekuk dan tangan berperan sebagai sayap.
  • Jalan Cacing
    Posisi merangkak, pertama buat gerakan kecil dengan tangan lalu dengan kaki.

Lalu lanjutkanlah dengan latihan gerak berikut ini:

  1. Jalan Bulan (Moon Walk)
    Anak disuruh meniru gerakan kanguru berjalan atau astronot yang berjalan di bulan.
  2. Tanda Loncatan
    Buatlah tanda di lantai sebagai tanda loncatan untuk kaki kanan dan kiri, misalnya warna merah untuk kanan dan biru untuk kiri, atau tulisan “kanan” dan “kiri”. Anak disuruh melompat ke kanan dan ke kiri dengan paduan tanda itu.
  3. Kotak Mainan (Box Game)
    Letakkan dua buah kotak bekas sepatu, satu di depan satu di belakang. Suruh anak melompat dari kotak belakang ke kotak depan, lalu memindahkan kotak yang seka-rang ada di belakangnya ke depan. Begitu seterusnya. Variasikan gerakan dengan menggunakan kaki secara bergantian saat meloncat, atau dengan tangan secara bergantian saat memidahkan kotak.
  4. Berjalan di Tangga
    Letakkan sebuah tangga secara membujur di lantai. Suruh anak berjalan di dalam tangga itu tanpa menyentuh anak tanggaya. Variasikan dengan gerakan maju, mundur, dan melompat.
  5. Hantu Salju
    Suruh anak telentang di lantai dan menggerakkan tungkai atau lengannya sesuai aba-aba. Mulailah dengan aba-aba gerakan sepasang, misalnya “Angkat kedua kaki tinggi-tinggi”, “Rentagkan kedua tangan lalu raih kepala”. Lanjutkan dengan aba-aba gerakan tunggal, misalnya “Rentangkan tangan kiri”, “angat kaki kanan”. Terakhir, aba-aba untuk gerakan menyilang, misalnya “Gerakan kaki kirimu ke kanan dan kaki kananmu ke kiri”, “Pegang kaki kanan dengan tangan kiri” dan seterusnya.
  6. Halang Rintang
    Buatlah rintangan dari kotak, hulahop, papan luncur, kursi, atau yang lainnya. Suruh anak berjalan dengan melompati, menyusup ke bawah, atau mengitari rintangan itu.
  7. Skate board merupakan teknik lain yang baik untuk aktivitas gross motorik tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan skate board di perut, di lutut, atau bisa juga dengan berdiri di atasnya. Skate board sendiri bisa dimainkan di lantai yang rata, landai atau bergelombang.
  8. Jumping Jack
    Anak dirusuh meloncat, ketika kaki direnggangkan tepukkan tangan di atas kepala. Sebagai variasi, suruh anak meloncat sambil membelokkan atau memutarkan badan ke kanan, ke kiri, ke arah utara, selatan, dan seterusnya.
  9. Hopping
    Anak disuruh melompat dengan sebelah kaki. Ketika turun dari loncatan, masukkan kaki ke hulahop yang di letakkan di lantai. Pola lompatan dilakukan dengan irama, misalnya pola kiri-kiri-kanan-kanan, atau kiri-kiri-kanan, ataupun kanan-kanan-kiri.
  10. Melambung atau Memantul
    Anak disuruh melambung atau loncat memantulkan diri di atas trampolin (jaring pegas), kasur pegas, atau matras.
  11. Skipping
    Aktivitas ini tergolong sulit untuk anak yang memiliki koordidasi gerak rendah. Karena gerakan ini memadukan irama, keseimbangan, dan koordinasi gerak. Jadi, anak perlu bimbingan untuk melakukan skipping.
  12. Bermain Hoolahoop
    Siapkan hulahoop berbagai ukuran. Masukkan hulahop di lengan, kaki, atau pinggang. Suruh anak menggoyang-goyangkannya, memantul-mantulkan bola di dalam hulahop, atau melompat di deretan hulahop.
  13. Bermain Tali
    Seuntai tali yang panjang bisa digunakan untuk berbagai latihan. Suruh anak mem-buat silhuet tubuh dengan tali, gunakan untuk mengajarkan body image. Atau suruh anak melakukan petunjuk-petunjuk berikut: “Ikat kursi dengan tali, lilitkan di bagian bawah meja, dan lewati kap lampu. Tali juga dapat digunakan untuk kegiatan bermain loncat-loncatan dengan gerak maju-mundur, atau menelusuri bentangan tali, membuat bentuk atau bidang, membuat huruf atau angka dengan tali, dan seterusnya.

B. Koordinasi Motorik Halus
Anak yang memiliki masalah koordinasi motorik kasar biasanya mengalami kesulitan menggunakan atau memanfaatkan benda-benda serta melakukan tugas-tugas yang menggunakan jari tangan. Masalah ini kerap muncul pada saat disuruh mewarnai gambar, menulis, mengikat sepatu, mengancingkan baju, dan menggunting. Bisa saja anak yang memiliki kemampuan bagus dalam motorik kasar tetapi buruk dalam motorik halusnya.

Prosedur Remedial

  1. Menelusuri.
    Telusuri garis, bentuk-bentuk gambar, pola, huruf, atau angka yang dibuat di kertas. Untuk mengarahkan anak dapat digunakan tanda panah, warna atau angka-angka.
  2. Mengisi Air
    Tuangkan air ke sebuah tabung yang taraf takarannya tertera. Untuk meningkatkan taraf kesulitan, kurangi jumlah airnya dan perhalus skala takarannya. Gunakan pula air berwarna-warni untuk menarik perhatian anak.
  3. Menggunting
    Suruh anak menggunting kertas yang bergambar bentuk-bentuk geometris seperti bujur sangkar, persegi panjang, dan segitiga. Gunakan warna sebagai petunjuk arah guntingannya.
  4. Mengikat
    Lubangi sebuah papan. Suruh anak memasukkan tali sepatu dan mengikatkannya di lubang itu.
  5. Meronce dan mengaitkan manik-manik pada seutas benang.
  6. Baca, tulis, gambar
    Buku-buku yang berisi tugas mewarnai gambar, menyambung pola titik-titik dengan garis, dan buku bacaan yang disediakan bagi anak-anak TK dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan fine motorik dan koordinasi mata-tangan.
  7. Mengkliping Pola Baju
    Guntinglah gambar-gambar baju, lalu dikliping. Suruh anak melakukan kegiatan menggunting dan mengkliping ini dengan batasan waktu tertentu.
  8. Meniru Pola
    Anak disuruh mengamati pola geometris dan menjiplak atau menyalinnya di kertas.
  9. Menjepit Kertas
    Kegiatan menjepit kertas berguna untuk mengembangkan kemampuan koordinasi mata-tangan dan kontrol fine motorik.
  10. Bermain Kelereng, Kartu, dan Tebakan Angka
    Permainan-permainan ini dapat mengembangkan kemampuan koordinasi mata-tangan, gerak ritmis, serta gerak tangan dan jari.
  11. Membentuk objek dengan tanah liat atau lempung dapat memperkuat otot-otot jari. Untuk meningkatkan taraf kemampuannya, suruh anak membuat berbagai bentuk, binatang atau objek-objek dengan lebh detil.
  12. Suruh anak memasukkan kancing baju ke seuntai benang lalu ditisikkan pada kain.
  13. Suruh anak menggambar pola baju di kertas, kemudian “jahitlah” dengan menggunakan benang dan jarum.
  14. Aktivitas yang menggunakan “kancing jepret”, mengancingkan baju, mengikat sepatu, dan sejenisnya dapat mengembangkan koordinasi fine motorik.
  15. Lingkaran
    Suruh anak membuat lingkaran besar di papan tulis atau kertas. Gunakan satu tangan dan dengan dua tangan. Sebelah tangan pola lingkarannya searah jarum jam dan yang sebelahnya lagi berlawanan dengan jarum jam.

Naskah ini merupakan hasil terjemahan penulis dari

Index buku The Hidden Handicapped, karya Gordon Serfontein, 1993

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home