Pantaraku

Di tapak-tapak jejakku, kukira tak 'kan mekar ungu padma. Hanya harap dan do'a: Moga tarikan nafasku, tak rebut catu udara sesiapa. Moga lirik tatapku, tak risihkan rasa sesiapa. Wudlu-ku belum sampai kaki Shalatku belum sampai ruku' Tepuk bahuku bila tampak jumawa Semoga ada guna, tentu saja

Monday, September 25, 2006

ARIA WIRATANUDATAR

[Drama musikal oleh anak-anak kelas 5 SD Pantara.
Diangkat dari kisah rakyat Betawi.
Dipentaskan dalam acara KAT 2006,
El-Shaddai, Lembang Bandung, 26 Juni 2006]

Musik : Tetalu Topeng Betawi
Narator : Cerita Betawi ARIA WIRATANUDATAR
Ini adalah kisah tentang dua orang bersaudara yang sabar dan setia pada janji. Namanya ARIA Wiratanudatar dan Aria Prabangsa. Hari ini mereka sedang ada di hutan…
Musik : Pine Forest Repose [track 5:Mountain Sunrise Peacefull]
Aria Wiratanu: (Memanggul kayu bakar)
Aduuh, capek juga nih seharian mengumpulkan kayu di hutan.
Aria Prabangsa: Iya, ya... Bagaimana kalau kita beristirahat dulu di sini?
Aria Wiratanu: Boleh boleh ... Saya juga capek sekali...
Narator : Karena terlalu lelah, mereka pun tertidur.....
Dalam tidurnya mereka berdua bermimpi. Anehnya mimpi keduanya sama. Mereka didatangi oleh Kakek Berjubah Putih.

Musik : Lullaby
Kakek : Cucuku Aria Wiratanu dan Aria Prabangsa Sebenarnya, Apakah cita-cita kalian?
AriaWiratanu & Prabangsa: (Terkejut...Bersamaan) Ingin menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, Kek...
Kakek : Oh, cita-cita yang bagus....
Aria Wiratanu: Terima kasih, Kek...
Kakek: Tapi tahukah kalian bahwa kalian berdua akan menjadi Raja yang masyhur... Raja yang dihormati rakyatnya....!
Aria Prabangsa: Oh, benarkah Kek?
Kakek : Benar, cucuku... Kalian berdua akan menjadi raja. Tapi kalian harus memenuhi syaratnya ... (Aria Wiratanu dan Aria Prabangsa kembali tertidur di dekat tumpukan kayu...)
Musik: La Rossa Bella [track 06: The Heart of Spring]

Narator: Syaratnya ada tiga. Syarat Pertama, Yang lebih dulu menjadi Raja adalah Aria Prabangsa. Dan, Aria Wiratanu harus mau menjadi rakyatnya. Syarat kedua Aria Wiratanu dan Aria Prabangsa tidak boleh saling mengenal. Dan Syarat Ketiga, Aria Wiratanu dan Aria Prabangsa tidak boleh saling membantu. Kalau kalian berdua tidak mematuhi persyaratan ini, maka …
Kakek: Kalian akan menjadi orang yang misikin dan sengsara. lebih miskin dan lebih sengsara dari saat ini. Hahahahaha … [Keluar panggung dari sebelah kiri.]

Wiratanu & Prabangsa: (Masih tidur tergeletak di dekat tumpukan kayu)
Peri Baik & Para Kurcaci: (Dipimpin oleh seorang Peri yang baik, para kurcaci masuk dari sebelah kanan panggung. Mereka membawa pakaian Raja dan pakaian rakyat. Sambil matanya tetap terpejam, Aria Prabangsa dipakaikan baju Raja. Sedangkan Aria Wiratanu dipakaikan baju rakyat. Setelah pemakaian baju selesai, para kurcaci pun keluar panggung sambil mengitari Aria Prabangsa dan Aria Wiratanu. Keduanya bangun dan terkejut melihat dirinya sudah berubah.)

Musik: Toy Story 2—mengiringi adegan di atas sampai Aria Wiratanu dan Aria Prabangsa bangun.
Narator: Maka, ketika terbangun dari tidurnya, Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa terkejut. Karena Aria Prabangsa telah menjadi seorang raja yang gagah perkasa. Sedangkan, Aria Wiratanudatar menjadi satu-satunya rakyat di kerajaan. Dia juga sekaligus menjadi pembantu di kerajaan Aria Prabangsa.
Bertahun-tahun mereka mendiami kerajaan tersebut.
Aria Wiratanu: (Sambil menyembah) Paduka Raja yang Mulia. Apakah tugasku hari ini?
Aria Prabangsa: Oh, rakyatku. Ambilkan air minum untukku... (Aria Wiratanu pergi keluar ke sebelah kiri panggung)
Peri: (Masuk dari sebelah kanan panggung sambil menari)
Musik: Klasik [Saint Saans: The Swans-The Carnival of the Animals]
Peri Jahat: (Setelah menari)
Paduka Raja Aria Prabangsa. Kenapa dari dulu Paduka hanya memiliki satu orang rakyat?
Aria Prabangsa: Saya tidak tahu Peri ...
Peri Jahat: Penyebabnya adalah karena Paduka Aria Prabangsa dibantu oleh Kakak Paduka sendiri—yaitu Aria Wiratanudatar. Paduka ingin menjadi raja yang masyhur?
A. Prabangsa: Oh, ya Peri. Bagaimanakah caranya?
Peri Jahat: Paduka Raja harus membunuh kakak Paduka itu. Paduka harus membunuh Aria Wiratanudatar. Maka Paduka akan menjadi Raja yang masyhur.
Aria Prabangsa: Membunuh kakaku sendiri? Aku tidak mau mendengar nasehat jahat mu. Pergi kau dari sini! Pergi kau dari sini Peri Jahat!
Peri Jahat: (Pergi keluar ke kiri panggung setelah menari sebentar)
Narator: Suatu hari, Aria Wiratanudatar ingin berhenti menjadi rakyat dari adiknya. Ia merasa sudah cukup lama mengabdi kepada adiknya. Maka iapun minta izin ingin untuk mengembara.
Berangkatlah Aria Wiratanudatar.
Keluar masuk hutan dan naik turun gunung...
Aria Wiratanu: (berhenti di tengah panggung sambil memegang sebuah tongkat. Lalu berkata pada diri sendiri)Nah, ini dia tempat yang subur. Sebaiknya aku tancapkan tongkat ini, sebagai telah tanda wilayahku... aku akan membangun daerah ini menjadi perkampungan yang subur.
Aria Prabangsa: (Tiba-tiba masuk dan memegang tongkat Aria Wiratanu)
Jangan kau tancapkan tongkatmu di sini. Ini masih termasuk wilayahku...
Aria Wiratanu: Oh, Paduka. Izinkan aku menancapkan tongkat ini. Hanya sebagai tanda bahwa aku pernah membangun daerah ini.

Aria Prabangsa: O, Begitu. Silakan kautancapkan tongkatmu di sini. Tapi setelah itu kau pergi dari sini.
Aria Wiratanu: Terima kasih Paduka (Aria Wiratanu menancapkan tongkat)
Musik: Musik dengan suasana yang agung ...[Vivaldi Concerto No. 1] mengiringi adegan berikut…
Peri Baik & Para Kurcaci: [Dipimpin oleh Seorang Peri yang Baik, para kurcaci masuk sambil membawa kursi untuk Aria Wiratanu dan Aria Prabangsa dan mem­­bawa baju raja untuk Aria Wiratanu.
Setelah selesai membereskan semuanya, mereka duduk melingkar.
Sebagian menghadap Aria Wiratanu, sebagian lagi menghadap Aria Prabangsa.
Dipimpin oleh salah seorang rakyat, mereka menyembah Rajanya masing-masing]
Narator: Akhirnya... kedua bersaudara itu berhasil mencapai cita-citanya: Menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Bahkan keduanya menjadi Raja yang adil dan bijaksana. Raja yang dicintai rakyatnya.....

Musik: Tetalu penutup.....
Semua pemain: Naik panggung memberi salam kepada penonton.

© Untung S. Drazat
Diangkat dari Cerita Rakyat Betawi “Aria Wiratanudatar”
– Kesenian Jakarta, Penerbit Erlangga dan PenerbitYudhistira Jakarta, 2000

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home